Agar Anak Tidak Berbohong dan Cara Menanamkan Kejujuran

Agar-Anak-Tidak-Berbohong-dan-Cara-Menanamkan-Kejujuran

Cara Golden, Lucu rasanya mendengarkan anak kecil bila sedang bercerita. Gaya bicaranya yang polos dan penuh antusias tidak jarang membuat orangtua sulit membedakan antara cerita fakta, fantasi, atau cerita bohong.

Pada anak-anak usia enam hingga sembilan tahun, sebagian dari mereka masih ada yang belum dapat membedakan mana cerita nyata dan mana cerita fantasi (khayalan).

Kadang-kadang anak membicarakan sesuatu berdasarkan imajinasinya dan menganggap bahwa yang diceritakannya tersebut adalah memang benar-benar terjadi.

Mengajarkan anak untuk dapat membedakan mana yang termasuk cerita nyata dan mana cerita khayalan sejak dini dapat membantu anak mengatakan sesuatu dengan jujur.

Sebenarnya, tidak semua anak bermaksud untuk berkata bohong ketika ia sedang menceritakan sesuatu (Rini Utami Aziz, 2006), ada beberapa alasan utama anak berbohong baik ia sadari maupun tidak, yaitu:

  1. Dusta putih, anak berbohong karena mengkhayal secara berlebihan, sang anak menganggap ceritanya benar-benar terjadi.
  2. Imitasi kebohongan, anak berdusta karena meniru kebiasaan orang tua atau orang-orang terdekatnya yang suka berbohong.
  3. Berbohong karena haus pujian, jika kebutuhan akan pujian tidak terpenuhi maka sang anak akan berusaha berbohong.
  4. Berbohong karena takut hukuman, contohnya anak terjebak ketika sedang mengambil kue tanpa permisi.

Apabila orangtua sering mendapatkan anaknya berbohong, bantulah dia untuk belajar selalu berkata jujur, yaitu:

  1. Menanamkan sifat jujur kepada anak perlu contoh (model), tentunya harus diawali oleh setiap individu yang terdekat dengan anak, orang tua dan saudara lain. Berusahalah untuk selalu bersikap jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan, sebab anak selalu mencontoh dari apa yang ia lihat dan ia dengar.
  2. Yakinkanlah kepada anak bahwa orangtua akan selalu mencintai dan menyayangi dia apa adanya, dan biarkan anak mengetahui bahwa orangtua akan lebih bahagia mendengar cerita walaupun kurang berkesan.
  3. Hindarkan memberikan hukuman yang berat kepada anak karena dapat menimbulkan rasa takut sehingga mendorongnya untuk berbohong.

Orangtua perlu memahami bahwa anak butuh waktu untuk belajar supaya menjadi benar. Bantulah dia mengembangkan sifat jujurnya dengan menjadi model terbaik baginya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *